Sebuah film tari yang mengadaptasi kisah Kelahiran Gatotkaca, memadukan unsur tari, drama dan musik.
Sebagai sebuah produk seni, film tari belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Paradoks sekali dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak ragam dan jenis tari-tarian, khususnya tari tradisi. Hal tersebut merupakan potensi yang perlu disadari untuk mulai dikembangkan agar kesenian tradisi tetap lestari. Dan realitanya, media film merupakan media komunikasi, media bercerita, sekaligus media hiburan yang paling universal dan paling mudah menyentuh wilayah sasaran. Jadi, kenapa kita tidak mencoba menggabungkan potensi seni yang kita miliki dengan kemajuan teknologi film/video yang berkembang saat ini untuk mendukung semangat berkesenian dan berkreasi melalui sebuah film tari?
Film Risang Tetuka, adalah film tari yang mencoba mengangkat kisah jatuh bangunnya kesenian wayang orang (Wayang Wong) di tengah persaingan dunia hiburan tanah air. Menggunakan tarian sebagai bahasa bertutur, Risang Tetuka diharapkan menjadi sebuah awal berkembangnya film-film tari di Indonsia.

Sinopsis
Tetuka, putra Arya Bima seorang pande besi ternama, dibesarkan dalam lingkungan tradisi Jawa yang cukup kuat. Selain membantu ayahnya bekerja, Tetuka juga menari di grup Wayang Wong asuhan Arya Bima. Tetuka dikenal sebagai anak muda berwatak keras, arogan, dan terkesan manja. Ia diharapakan orang tuanya untuk menjadi seseorang berwatak ksatria yang andap asor (rendah hati) dan kelak mampu melestarikan seni budaya tradisi Jawa, khususnya kesenian wayang orang. Namun, pada satu titik Tetuka muda mengalami kejenuhan yang luar biasa pada tari tradisi Jawa yang digelutinya sejak kecil. Darah mudanya bergolak menolak konsepsi-konsepsi yang berlaku di lingkungannya. Ia ingin menjadi seseorang yang baru, Tetuka yang ingin disebut anak jaman, pengusung modernitas.
Risang Tetuka dilatarbelakangi kisah kehidupan kesenian wayang orang di desa Pringgondani yang sekarat. Sepinya penonton menyebabkan kebangkrutan kesenian ini. Tekanan dari pemerintah kabupaten dengan menghentikan bantuan dana operasional dan keputusan untuk menggusur gedung wayang orang semakin kuat. Nasib wayang orang Pringgondani asuhan Arya Bima dan Arimbi bagai telur di ujung tanduk, dan harapan satu-satunya pada putra mereka seakan-akan pupus dengan melihat kebengalan Tetuka.
Informasi Teknis
Film Format: Digital / Colour - Genre: Fiksi Drama Tari - Durasi: 60 menit
Behind The Scene "Official Sample Clip Risang Tetuka"
Dibalik Layar (BTS) Official Sample Clip "Risang Tetuka" - Part1 from The Rockies Film on Vimeo.
Dibalik Layar (BTS) Official Sample Clip "Risang Tetuka" - Part2 from The Rockies Film on Vimeo.
Saat ini kami memerlukan dana untuk proses produksi, mengingat film ini melibatkan talent (penari) yang cukup banyak dan kebutuhan artistik yang tidak murah. Dana yang terkumpul juga akan kami gunakan untuk distribusi karya ke berbagai festival, terutama festival tari tingkat internasional (dan tidak menutup kemungkinan festival-festival film yang umum, mengingat film Risang Tetuka juga termasuk kategori film fiksi).
Pre-Produksi : Juni - Oktober 2012
Produksi : November 2012
Pasca Produksi : Desember 2012
Distribusi : Januari 2013
Deny Ardianto lahir tahun 1979 di Solo dan menyelesaikan S1 Desain Komunikasi Visual di Universitas Sebelas Maret Solo. Tahun 2005-2008 Ia memperoleh beasiswa DAAD (The German Academic Exchange Service) untuk studi Master of Art/Diplom of Art bidang Fotografi dan Eksperimental Film-Video di Hochschuele Bildede Kuenste (HBK) di Braunschweig-Jerman. Kini sedang menyelesaikan studi Maisterschueller di HBK Braunschweig-Jerman dan Doktor bidang Film di Institut Seni Yogyakarta. Sejak tahun 2000, Ia aktif secara profesional dalam bidang periklanan serta audiovisual, dan sejak 2002, mengajar di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan bekerja mandiri sebagai filmmaker. Selain berkarya di ranah komersial juga aktif membuat film-film eksperimental. Karya-karya filmnya diputar di beberapa festival seperti Braunschweig International Film Fest-Jerman, Europäischem Medienkunst Fest (EMAF) di Osnabrück-Jerman, Anadoma Film Fest-Jerman, Sichuan Fine Arts Institute, Chongqing-China, Toronto Image Works Gallery, dan Toronto-Kanada.
www.risangtetuka.co.nr
facebook: Risang Tetuka
twitter: @risangtetuka
email: risangtetuka@ymail.com
Hanya yang sudah mendukung yang bisa mengirimkan komentar